BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Pendidikan
merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Amanat ini termuat dalam
Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab I
pasal (1) : “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”. Kualitas pendidikan
di Indonesia dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya sistem pendidikan,
anggaran pendidikan, sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum, kualitas pembelajaran,
profesionalisme guru, dan manajemen pendidikan (Prasetyaningsih dan Wilujeng,
2016 : 148).
Pendidikan
merupakan tanggung jawab Negara, akan tetapi unjung tombak keberhasilan tujuan
pendidikan adalah guru. Guru dapat menciptakan sumber daya manusia yang unggul
dan memiliki kemampuan yang baik, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan
upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Guru merupakan figur seseorang
yang memegang peranan penting dalam dunia pendidikan baik dasar maupun menengah,
guru selalu terlibat dalam suatu agenda kegiatan pendidikan, terutama
pendidikan formal. Guru memiliki tanggung jawab bukan hanya di sekolah tetapi
juga di masyarakat. Dalam proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar
merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian
tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana guru melaksanakan proses
belajar mengajar di sekolah (Warsono, 2016 : 469).
Sumber daya manusia Indonesia yang
berkualitas merupakan aset bangsa dan negara dalam melaksanakan pembangunan
nasional di berbagai sektor dan dalam menghadapi tantangan kehiupan masyarakat
dalam era globalisasi. Sumber daya manusia ini tiada lain ditentukan oleh hasil
produktivitas lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan, yang terdiri atas jalur
sekolah dan luar sekolah, dan secara spesifik merupakan hasil proses belajar
mengajar di kelas (Surjana, 2004 : 68-69).
We live in a world of constant change. If we want to be in
step with the needs of the XXI century, we need to apply changes to the
education system as well.
According to Dryden, G.,
and Vos, J in Delceva (2014 : 51-52) We are inevitably faced with the question
of renovating schools. This is а recurring question because it is essential for
public education. “In this country, there are thousands of buildings where
people have no phone and no cable TV. We call them schools.
The goal of every school is
to be the best, to be failure-free and to make possible that every child learn
it is own talents and capabilities. The
new generations of children grow up surrounded with digital media. That is why
constantly updating teaching programs is essential for students to obtain
different kinds of knowledge. They should be in the focus of attention: there
should be changes in the way we grade students, education should be
computerized, but most importantly changes should be applied in the classroom
itself, in they way we manage it and in the way we organize classes.
Learning is in essence, the
most interesting game in life. All children believe this before we convince
them otherwise - that it’s very difficult!. The teacher should provide every student with the
possibility of choice and the responsibility for his own education. The
teacher, being the key for the teaching process, should be able to establish a
positive school atmosphere. Such an atmosphere is described as purposeful,
active, relaxed and motivational. With a positive educational atmosphere and a
mutual trust between teachers and students all problems and difficulties are
easily surmounted. Additionally, the teacher is responsible for setting the
expectation rate of student success (Delceva, 2014 : 51-52).
Terjemahan :
Kita hidup di dunia yang dinamis
selalu konstan selalu berubah. Jika kita ingin selangkah di depan kebutuhan
abad XXI, kita perlu menerapkan perubahan pada sistem pendidikan juga.
Menurut Dryden, G., dan Vos, J di
Delceva (2014: 51-52) Kita pasti dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan
renovasi sekolah. Ini adalah pertanyaan yang berulang karena sangat penting
untuk edukasi publik. “Di negara ini, ada ribuan bangunan di mana orang tidak
memiliki telepon dan tidak ada TV kabel. Kami menyebutnya sekolah.
Tujuan setiap sekolah adalah
untuk menjadi yang terbaik, bebas dari kegagalan dan untuk memungkinkan bahwa
setiap anak belajar itu adalah bakat dan kemampuan mereka sendiri. Generasi
baru anak-anak tumbuh dengan dikelilingi media digital. Itu sebabnya
terus-menerus memperbarui program pengajaran sangat penting bagi siswa untuk
mendapatkan berbagai jenis pengetahuan. Mereka harus menjadi fokus perhatian:
harus ada perubahan dalam cara kita menilai siswa, pendidikan harus
dikomputerisasi, tetapi yang paling penting perubahan harus diterapkan di kelas
itu sendiri, dalam cara mereka mengelolanya dan dalam cara kita mengatur kelas.
Belajar pada dasarnya adalah permainan yang paling menarik dalam hidup. Semua anak percaya ini sebelum kita meyakinkan mereka sebaliknya - bahwa itu sangat sulit !. Guru harus memberikan setiap siswa kemungkinan pilihan dan tanggung jawab untuk pendidikannya sendiri. Guru, yang menjadi kunci untuk proses mengajar, harus mampu membangun atmosfer sekolah yang positif. Suasana seperti itu digambarkan sebagai tujuan, aktif, santai dan motivasi. Dengan suasana pendidikan yang positif dan saling percaya antara guru dan siswa semua masalah dan kesulitan dengan mudah diatasi. Selain itu, guru bertanggung jawab untuk menetapkan tingkat harapan keberhasilan siswa (Delceva, 2014: 51-52).
Inti kegiatan suatu sekolah atau kelas
adalah proses belajar mengajar (PBM). Kualitas para siswa serta para lulusan
banyak ditentukan oleh keberhasilan pelaksanaan PBM tesebut atau dengan kata
lain banyak ditentukan oleh fungsi dan peran guru. Pada dewasa ini masih banyak
permasalahan yang berkaiatan dengan PBM. Seringkali muncul berbagai keluhan dan
kritik para siswa, ataupun guru berkaitan dengan pelaksanaan PBM tersebut.
Keluhan- Keluhan itu sebenarnya tidak
perlu terjadi atau setidak-tidaknya dapat diminimalisasikan, apabila semua
pihak dapat berperan, terutama guru sebagai pengelola kelas dan fungsi yang
tepat. Sementara ini pemahaman mengenai pengelolaan kelas nampaknya masih
banyak yang keliru atau tidak tepat. Seringkali pengelolaan kelas dipahami
sebagai pengatuaran ruang kelas yang berkaitan dengan sarana seperti tepat
duduk, lemari buku, dan alat-alat mengajar. Padalah pengaturan sarana belajar
di kelas hanyalah sebagian kecil saja, yang terutma ada pengkondisian kelas,
artinya bagaimana guru merencanakan, mengatur, melakukan berbagai kegiatan di kelas,
sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dan berhasil dengan baik
(Surjana, 2004 : 68-69).
Dari semua penjelasan yang sudah
dipaparkan sebelumnya, kita ketahui bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat
penting di setiap negara, termasuk di Indonesia. Tujuan pendidikan tak lain
adalah untuk meningkatkan sumber daya manusia yang ada, menjadikan manusia yang
berkualitas dan memiliki sumber daya tinggi. Salah satu faktor yang
mempengarahui keberhasilan pendidikan mencapai tujuannya adalah guru dalam
pengelolaan atau manajemen kelas. Namun, pada kenyataannya guru sendiri masih
sering salah dalam memaknai arti dari pengelolaan kelas, yang menyebabkan
proses pembelajaran terganggu dan memungkin tujuan pendidikan yang diinginkan
tidak tercapai. Oleh sebab itu maka makalah ini dibuat untuk mengkaji mengenai
pengelolaan kelas oleh guru, dan diharapkan bisa menjelaskan mengenai
pengelolaan kelas itu sendiri.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian Pengelolaan kelas ?
2.
Apa
tujuan Pengelolaan kelas ?
3.
Bagaimana
cara penataan ruang kelas yang baik ?
4.
Bagaimana
menciptakan Lingkungan yang positif untuk pembelajaran ?
5.
Apa
saja jenis pengelolaan kelas ?
6.
Apa
saja Prinsip Pengelolaan kelas ?
7.
Bagaimana
pendekatan pengelolaan kelas ?
8.
Apa
saja masalah yang terjadi dalam pengelolaan kelas ?
1.3
Tujuan
1.
Dapat
mengetahui pengertian Pengelolaan kelas.
2.
Dapat
mengetahui tujuan Pengelolaan kelas.
3.
Dapat
mengetahui cara penataan ruang kelas yang baik.
4.
Dapat
mengetahui menciptakan Lingkungan yang positif untuk pembelajaran.
5.
Dapat
mengetahui saja jenis pengelolaan kelas.
6.
Dapat
mengetahui saja Prinsip Pengelolaan kelas.
7.
Dapat
mengetahui pendekatan pengelolaan kelas.
8.
Dapat
mengetahui masalah-masalah yang terjadi dalam pengelolaan kelas.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Kajian
Pustaka
2.1.1 Pengertian
Manajemen Kelas
Secara umum, kelas adalah suatu
aktivitas pembelajaran yang dilakukan sekelompok siswa dan guru di suatu tempat
secara bersamaan. Dengan kata lain, kelas merupakan tempat bertemunya guru dan
siswa tetapi tidak hanya sampai di situ pengertian kelas. Kelas juga dapat
digunakan sebagai tempat berkumpulnya suatu komunitas dan kebudayaan, tempat
seseorang untuk berintekrasi sebagai manusia sosial juga sebagai sebuah
ekologi. Tak hanya itu, kelas juga merupakan suatu lingkungan yang dinamis
dimana banyak aktivitas diadakan pada waktu yang sama. Kelas diadakan dengan
tujuan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan, dan juga untuk membentuk
kemampuan dan sikap yang baik dalam peserta didik (Adi, 2016 : 2-3)
Kelas seperti sebuah oraganisasi,
kelas dalam arti umum menunjukkan kepada pengertian sekelompok siswa yang ada
pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dan dari guru yang sama pula.
Sedangkan kelas dalam arti yang luas adalah suatu masyarakat kecil yang
merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan organisasi
menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan
belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. Selanjutnya adalah
manajemen, manajemen diartikan sebagai pencapaian tujuan organisasi dengan cara
yang efektif dan efisien lewat perencanaan pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan sumber daya organisasi. Dengan demikian manajemen kelas adalah
bagaimana segala sumber daya yang ada di dalam kelas dikelola secara efektif
dan efisien guna mencapai tujuan kelas, salah satunya kegiatan belajar mengajar
yang berkualitas (Sunaengsih, 2017: 15).
Menurut Weber W.A. (1988) dalam Sunaengsih (2017 : 15) mendefinisikan
manajemen kelas sebagai kompleks of teaching behaviour of teacher efficient
instruction yang mengandung pengertian bahwa segala usaha yang diarahkan untuk
mewujudkan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan serta memotivasi murid
agar dapat belajar dengan baik.
Menurut Johson dan Bany (1970) dalam
Sunaengsih (2017 : 15) Manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus
dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosa dan kemampuan bertindak
menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek yang perlu diperhatikan
dalam manajemen kelas adalah : sifat kelas, pedorong kekuatan kelas, situasi
kelas, tindakan seleksi dan kreatif.
Menurut Adnan Sulaeman dalam
Sunaengsih(2017 : 15) manajamen kelas merupakan serangkaian perilaku guru dalam
upaya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik
mencapai tujuan belajar secara efisien atau memungkinkan peserta didik belajar
dengan baik. Selain itu, menurut Mulyana dalam Sunaengsih (2017 : 15)manajemen
kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran kondusif
dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.
Manajemen kelas adalah segala usaha
yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan
menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai
dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen merupakan usaha sadar
untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar
itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga,
pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/kondisi proses belajar mengajar
dan peraturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan
kurikuler dapat tercapai (Sunaengsih,
2017: 15).
Manajemen kelas adalah manajemen
penataan kelas yang berupa aturan yang efektif untuk memaksimalkan proses
pembelajaran murid. Terdapat beberapa pandanganan dalam manajemen kelas
tergangtung fasilitas pendidikan yang digunakan. Dua yang kontras adalah
perspektif teacher-centered dan
learner-centered. Berdasarkan penelitian Edmund, Emmer, dan Evertson, upaya
yang dilakukan guru untuk pengelolaan kelas mampu menghasilkan prestasi murid
yang tinggi. Ini karena keterlibatan murid di kelas, tingkah laku murid yang
tidak banyak mengganggu kegiatan guru dan siswa lain, dan penggunaan waktu
belajar yang efisien. Isu manajemen kelas berkaitan dengan mendesai lingkungan
kelas fisik untuk pembelajaran yang optimal, menciptakan lingkungan positif
untuk pembelajaran, membnagun dan menegakkan aturan, mengajak murid berprestasi
mengatasi permasalahan secara efektif , dan menggunakan strategi komunikasi
yang baik (Yao Tung, 2015 :379-380).
Manajemen kelas adalah mengacu kepada
penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas dapat
melaksanakan proses belajar dengan efektif, efisien dan menyenangkan. Manajemen
kelas merupakan perangkat perlaku yang kompleks dimana guru menggunakannya
untuk mengembangkan dan memelihra kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik
mencapai tujuan belajar secara efisien . Dapat disimpulka bahwa menejemen kelas
adalah berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakuan oleh guru dengna
tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di
kelas. Manajemen kelas sngat berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan
mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (Indrawan,
2015 : 6-7).
According to Marshall (2003) in Walter
and Frei (2007 : 13) Classroom management refers to how things are generally carried
out in the classroom, whereas classroom discipline is the specific management
of student behavior. Dr. Marvin Marshall explains, “Classroom management deals
with how things are done; discipline deals with how people behave. Classroom
management has to do with procedures, routines, and structure; discipline is about
impulse management and self-control. Classroom management is the teacher’s
responsibility; discipline is the student’s responsibility”.
Terjemahan
:
Menurut Marshall (2003) dalam Walter dan
Frei (2007: 13) Manajemen kelas mengacu pada bagaimana hal-hal umumnya
dilakukan di kelas, sedangkan disiplin kelas adalah manajemen spesifik perilaku
siswa. Dr. Marvin Marshall menjelaskan, “Manajemen kelas menangani bagaimana
hal-hal dilakukan; penawaran disiplin dengan cara orang berperilaku. Manajemen
ruang kelas berkaitan dengan prosedur, rutinitas, dan struktur; Disiplin adalah
tentang manajemen impuls dan pengendalian diri. Pengelolaan kelas adalah
tanggung jawab guru; disiplin adalah tanggung jawab siswa ”
According
to Evertson and Weinstein (2006) in Korpershoek, et all (2014 : 11) refer in
their definition of classroom management to the actions teachers take to create
a supportive environment for the academic and social emotional learning of
students. Brophy (2006) in Korpershoek, et all (2014 : 11) presents a similar
definition: “Classroom management refers to actions taken to create and
maintain a learning environment conducive to successful instruction (arranging
the physical environment, establishing rules and procedures, maintaining
students' attention to lessons and engagement in activities)”.
Terjemahan
:
Menurut
Evertson dan Weinstein (2006) dalam Korpershoek, et all (2014: 11) merujuk pada
definisi mereka tentang manajemen kelas terhadap tindakan yang diambil oleh
para guru untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi pembelajaran
emosional dan sosial siswa. Brophy (2006) dalam Korpershoek, et all (2014: 11)
menyajikan definisi yang serupa: “Manajemen kelas mengacu pada tindakan yang
diambil untuk menciptakan dan memelihara lingkungan belajar yang kondusif untuk
instruksi yang sukses (mengatur lingkungan fisik, menetapkan aturan dan
prosedur, mempertahankan siswa 'Perhatian pada pelajaran dan keterlibatan dalam
kegiatan) ”.
According
Fred Jones in Dunbar (2004 : 3) , a noted classroom management expert,
explains: “A good classroom seating arrangement is the cheapest form of
classroom management. It’s discipline for free.” Many experienced teachers
recommend assigned seating for students to facilitate discipline and
instruction. They argue that students left to their own devices will always
choose a seat that places the teacher at the greatest disadvantage. Best
practices suggest a few common-sense rules to guide classroom arrangements.
·
Students should be
seated where their attention is directed toward the teacher.
·
High traffic areas
should e free from congestion.
·
Students should be able
to clearly see chalk board, screens, and teacher.
·
Students should be
seated facing the front of the room and away from the windows.
·
Classroom arrangements
should be flexible to accommodate a variety of teaching activities.
Much
research on classroom management has focused on student participation in
establishing codes of conduct. It suggests that students should actively
participate in the creation of guidelines governing classroom behavior. This
belief suggests that students will support rules they establish. Best practices
recommend minimizing the number of rules. Children have a tendency to recommend
a laundry list of rules. Teachers, however, should provide limited structural
input so that rules are direct, clear, and consistent, and encourage positive
behavior. In addition, teachers must make sure that rules are designed to
support a concept of consequences for inappropriate behavior rather than
punishment.
Terjemahan
:
Menurut Fred Jones, seorang ahli
manajemen kelas yang terkenal, menjelaskan: “Pengaturan tempat duduk kelas yang
baik adalah bentuk termurah dari manajemen kelas. Ini disiplin secara gratis.
”Banyak pengajar yang berpengalaman merekomendasikan tempat duduk bagi siswa
untuk memfasilitasi disiplin dan instruksi. Mereka berpendapat bahwa siswa yang
pergi ke perangkat mereka sendiri akan selalu memilih kursi yang menempatkan
guru pada kerugian terbesar. Praktik terbaik menyarankan beberapa aturan yang
masuk akal untuk memandu pengaturan kelas.
·
Siswa harus duduk di mana perhatian
mereka diarahkan ke guru.
·
Area lalu lintas tinggi harus bebas
dari kemacetan.
·
Siswa harus dapat melihat dengan
jelas papan kapur, layar, dan guru.
·
Siswa harus duduk menghadap ke depan
ruangan dan jauh dari jendela.
·
Pengaturan ruang kelas harus
fleksibel untuk mengakomodasi berbagai kegiatan mengajar.
Banyak
penelitian tentang manajemen kelas telah berfokus pada partisipasi siswa dalam
membangun kode etik. Ini menunjukkan bahwa siswa harus secara aktif
berpartisipasi dalam pembuatan pedoman yang mengatur perilaku kelas. Keyakinan
ini menunjukkan bahwa siswa akan mendukung peraturan yang mereka buat. Praktik
terbaik menyarankan untuk meminimalkan jumlah aturan. Anak-anak memiliki
kecenderungan untuk merekomendasikan daftar cucian aturan. Guru, bagaimanapun,
harus memberikan masukan struktural yang terbatas sehingga aturannya langsung,
jelas, dan konsisten, dan mendorong perilaku positif. Selain itu, guru harus
memastikan bahwa aturan dirancang untuk mendukung konsep konsekuensi untuk
perilaku yang tidak pantas daripada hukuman.
There is an old saying that
cleanliness is next to godliness. This saying apllies to classroom managament.
The outlook of a classroom speaks volume about what is taking place in teaching
and learning.Class management is at the center of learning at primary school
level. Aspect to be supervised include lesson introduction, lesson development,
use of group work, teacher pupil interaction, pupil-pupil interaction,
questioning technique, class control, pupil participation, written work given
in class, remedial work in class, discovery method used, role play used,
individual pupil’s attention, mastery of
content, language, communication, voice clearity, expression and voice
modulation (Chivore, 1995 : 55).
Terjemahan :
Ada pepatah lama bahwa kebersihan ada di samping kesalehan. Pepatah ini berbunyi ke manajemen kelas. Pandangan kelas berbicara tentang apa yang terjadi dalam pengajaran dan pembelajaran. Manajemen kelas adalah pusat pembelajaran di tingkat sekolah dasar. Aspek yang akan diawasi meliputi pengenalan pelajaran, pengembangan pelajaran, penggunaan kerja kelompok, interaksi guru murid, interaksi murid-murid, teknik bertanya, kontrol kelas, partisipasi murid, pekerjaan tertulis yang diberikan di kelas, pekerjaan perbaikan di kelas, metode penemuan yang digunakan, peran bermain digunakan, perhatian murid individu, penguasaan konten, bahasa, komunikasi, kejelasan suara, ekspresi dan modulasi suara.
According Simonsen (2008 : 351) Classroom management is a critical skill area. Teachers should be trained and supported in implementing practices that are likely to be successful; that is, practices that are backed by evidence. Classroom management is an important element of pre-service teacher training and in-service teacherbehavior(Emmer& Stough, 2001) and is comprised of three central components: maximized allocation of time for instruction, arrangement of instructional activities to maximize academic engagement and achievement, and . proactive behavior management practices (Sugai & Homer, 2002). Early research on classroom management employed either descriptive or correlational methods and highlighted practices that were used by "effective teachers" (e.g., Kounin & Obradovik, 1967; Kounin, Friesen, & Norton, 1966). This research formed the foundation for chapters and textbooks on classroom management (Emmer & Stough, 2001). Thus, some practices currently disseminated to pre- and in-service teachers are based on preliminary findings of early research and may not have an established evidence base.
Terjemahan :
Menurut Simonsen (2008 : 351) Pengelolaan
ruang kelas adalah bidang keterampilan yang penting. Guru harus dilatih dan
didukung dalam menerapkan praktik-praktik yang mungkin berhasil; yaitu, praktik
yang didukung oleh bukti.Pengelolaan kelas adalah elemen penting dari pelatihan
guru pra-jabatan dan perilaku guru dalam jabatan (Emmer & Stough, 2001) dan
terdiri dari tiga komponen utama: alokasi waktu yang dimaksimalkan untuk
pengajaran, pengaturan kegiatan pembelajaran untuk memaksimalkan keterlibatan
dan pencapaian akademik, dan . praktek manajemen perilaku proaktif (Sugai &
Homer, 2002). Penelitian awal pada manajemen kelas menggunakan metode
deskriptif atau korelasional dan menyoroti praktik yang digunakan oleh
"guru yang efektif" (mis., Kounin & Obradovik, 1967; Kounin,
Friesen, & Norton, 1966). Penelitian ini membentuk fondasi untuk bab dan
buku teks pada manajemen kelas (Emmer & Stough, 2001). Dengan demikian,
beberapa praktik yang saat ini disebarluaskan kepada guru pra-dan dalam jabatan
didasarkan pada temuan awal penelitian awal dan mungkin tidak memiliki basis
bukti yang kuat.
Clearly
students cannot learn amidst anarchy and chaos. Therefore there should be
norms, etiquettes and mutually agreeable code of conduct among the students and
with teacher. Even a competent teacher with an excellent lesson plan cannot
achieve his instructional objectives without proper classroom management. Hence
training in the skill of classroom management is indispensable in any teacher
preparation course. Lai et al., (2005) designed an online course using Scenario
based Strategy in teacher education for classroom management. Combined with the
theories of classroom management, it uses multimedia to present the reality
which allows learners to experience how teachers make decisions (Vijesh and
Praveen, 2017 : 18).
Terjemahan
:
Jelas bahwa para siswa tidak dapat belajar di tengah-tengah anarki dan kekacauan. Oleh karena itu harus ada norma, etiket dan tata tertib yang saling disetujui di antara para siswa dan dengan guru. Bahkan seorang guru yang kompeten dengan rencana pelajaran yang sangat baik tidak dapat mencapai tujuan instruksionalnya tanpa manajemen kelas yang tepat. Oleh karena itu, pelatihan dalam keterampilan manajemen kelas sangat diperlukan dalam setiap kursus persiapan guru. Lai et al., (2005) merancang kursus online menggunakan Skenario berdasarkan Strategi dalam pendidikan guru untuk manajemen kelas. Dikombinasikan dengan teori manajemen kelas, ia menggunakan multimedia untuk menyajikan realitas yang memungkinkan peserta untuk mengalami bagaimana guru membuat keputusan (Vijesh dan Praveen, 2017: 18).
2.1.2 Tujuan Pengelolaan Kelas
Tujuan
manajemen kelas pada hakekatnya sudah terkadung pada tujuan pendidikan secara
umum. Menurut Sudirman (2000) dalam Sunaengsih (2017: 16) tujuan manajemen
kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam
lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang
disediakan itu memungkinkan siswa beljar dan bekerja, terciptanya suasana
sosial yang memberi kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual,
emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Menurut Suharsimi Arikunto (2004)
dalam Sunaengsih (2017 : 16), berpendapat bahwa tujuan manajemen kelas adalah
agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai
tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Selanjutnya akan diuraikan secara
rinci tentang tujuan manajemen kelas :
a. Mewujudkan
situasi kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok
belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan
semaksimal mungkin.
b. Menghilangkan
berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
c. Menyediakan
dan mengatur fasilitas serta perabotan belajar yang mendukung dan memungkinkan
siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelek siswa
dalam belajar.
d. Membina
dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta
sifat-sifat individualnya.
Menurut
Yao Tung (2015: 82) tujuan manajemen kelas yaitu :
a. Menghindari
hal-hal yang menggangu proses pembelajaran.
b. Membantu
murid menggunakan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu
aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan.
c. Mencegh
murid mengalami masalah akademik dan emosional.
1.1.3 Penataan
Ruang Kelas
Isu manajemen kelas berkaitan dengan
mendesain lingkungan fisik kelas untuk pembelajaran yang optimal, menciptakan
lingkungan yang positif untuk pembelajaran, membangun dan menegakkan aturan,
mengajak murid berpartipasi mengatasi permasalahan secara efektif, dan
menggunakan strategi komunikasi yang baik ( Yao Tung, 2005 : 380).
Menurut Majid (2013 : 167-168) Dalam
mewujudkan pengelolaan kelas yang baik, terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhinya, di antaranya adalah kondisi fisik. Lingkungan fisik tempat
belajar memiliki pengaruh yang penting terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan
fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukungmeningkatnya
intensitas proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap
pencapaian tujuan pembelajaran. Lingkungan fisik yang dimaksud meliputi :
a. Ruang
tempat berlangsung proses belajar mengajar.
Ruang tempat belajar harus memungkinkan
semua siswa bergerak leluasa tidak berdesak-desakan dan saling mengganggu
antara siswa yang satu dan yang lainnya. Pada saat melakukan aktivitas belajar.
b. Pengaturan
tempat duduk.
Dalam mengatur tempat duduk yang paling
penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka, dengan demikian guru dapat
mengontrol tingkah laku siswa.
c. Ventilasi
dan pengaturan cahaya.
Suhu, ventilasi dan penerangan adalah aset penting untuk terciptanya susana
belajar yang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan
siswa.
d. Pengaturan
penyimpanan barang-barang.
Barang-barang hendaknya disimpan pada
tempat khusus yang mudah dicapai bila diperlukan dan akan dipergunakan bagi
kepentingan belajar.
Menurut Suhaenah (2001 : 82) dalam Majid
(2005 : 168-169) mengemukakan kriteria yang harus dipenuhi ketika melakukan
penataan fasilitas ruang kelas sebagai berikut :
1.) Penataan
ruang dianggap baik apabila menunjang efektifitas proses pembelajaran yang
salah satu petunjukknya adalah bahwa anak-anak belajar dengan aktif dan guru
dapat mengelola kelas dengan baik.
2.) Penataan
tersebut bersifat fleksibel (luwes).
3.) Ketika
anak belajar tentang suatu konsep, maa ada fasilitas yang dapat memberikan
bantuan untuk memperjelas konsep-konsep tersebut yaitu berupa gambar-gambar
atau modelatau media lain sehingga konsep-konsep tersebut tidak bersifat
verbalitas.
4.) Penataan
ruang dan fasilitas yang ada di kelas harus mampu membantu siswa meningkatkan
motivasi siswa untuk belajar sehingga mereka merasa senang belajar.
Menurut Majid (2005 : 169) terdapat
beerapa hal yang harus diperhatikan dalam pengaturan ruang kelas adalah :
1.) Ruang
kelas harus diusahakan memenuhi persyaratan.
2.) Daun
jendela tida menggangu lalu lintas pada selayar.
A. Prinsip
Penataan Kelas
Menurut Yao Tung (2005 : 384) terdapat
beberapa prinsip penataan kelas, yaitu :
a. Kurangi
kepadatan di tempat lalu lalang di dalam kelas.
b. Pastikan
guru dapat dengan mudah melihat murid.
c. Pastikan
seluruh pengajar dan perlengkapan murid mudah diakses.
d. Pastikan
setiap murid dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas.
B. Gaya
Penataan Kelas
Menurut Santrock (2013) dalam Yao Tung
(2005 : 384-387) paling tidak ada lima gaya penataan kelas dengan kombinasi
yang cukup banyak (Penataan kelas standar dapat terdiri dari model auditorium,
tatap muka, off-set, seminar, klaster. Strategi penataan kelas ini
memperhatikan :
a. Aksesibilitas
: Murid mudah menjangkau alat atau sumber belajar yang tersedia.
b. Mobilitas
: Murid dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian lain dala kelas.
c. Interaksi
: Memudahkan terjadinya interaksi ntara guru dan murid maupun antar murid.
d. Variasi
kerja murid : memungkinkan murid bekrjasama secara perorangan, berpasangan
antar kelompok
Lingkungan fisik dalam ruang kelas dapat
menjadikan belajar efektif. Meskipu tidak ada satupun bentuk ruang kelas yang
ideal, ada beberapa pilihan yang dapat diambil sebagai variasi. Dekorasi kelas
harus dirancang memungkinkan anak belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
1) Gaya
Audotorium
Pada penataan kelas gaya audotorium,
semua murid menghadap guru. Penataan ini membatasi kontak tatap muka antara
murid dan guru bebas bergerak ke mana saja. Penataan ini sering dipakai saat
guru mengajar atau seseroang memberikan presentasi di kelas.
Susunan berbentuk V atau U
mengurangi jarak antara murid namun memungkinkan murid lain bila dibandingkan
dengan berbaris lurus, tanpa terus menerus bertatapan muka frontal antara saru
murid dengan murid lainnya. Dalam suasana ini, tempat yangmenjadi pusat
perhatian adalah di tengah depan. Bentuk V untuk murid yang banyak disebut
Chevroun.
2) Gaya
Tatap Muka ( Face to Face)
Pada penataan kelas gaya tatap muka,
murid salingmenghadap. Gangguan dari murid lain akan lebih besar pada susunan
ini dibandingkan dengan gaya auditorium.
3) Gaya
Off-Set
Pada pentaan kelas gaya set-off,
sejumlah murid, yang biasanya tiga atau empat anak, duduk dibangu tetapi tidak
duduk berhadapan langsung satu sama lain. Gangguan dalam gaya ini lebih sedikit
dibandingkan gaya tatap muka dan lebih efektif untuk pembelajaran yang lebih
kooperatif.
Susunan ini ni tepat untuk setiap
murid mengerjakan tugas seperti mengoperasikan komputer, mesin, atau melakukan kerja
laboratorium setelah demonstrasi. Posisi ini tempat untuk lingkungan
laboratorium tertentu, yang sering disebut workstation.
4) Gaya
Seminar
5) Gaya
Klaster
Sejumlah murid, yang biasanya empat
sampai delapan anak, bekerja dalam kelompok kecil. Susunan ini efektif untuk
pembelajaran kolaboratif.
According to Wannarka and Ruhl (2008 : 89) Seating
arrangements are important classroom setting events because they have the
potential to help prevent problem behaviours that decrease student attention
and diminish available instructional time.
Terjemahan :
Menurut Wannarka dan Ruhl (2008:
89) Pengaturan tempat duduk adalah acara pengaturan kelas yang penting karena
mereka memiliki potensi untuk membantu mencegah perilaku bermasalah yang
mengurangi perhatian siswa dan mengurangi waktu pembelajaran yang tersedia.
1.2.4 Lingkungan
Positif Untuk Pembelajaran
Menurut
Tao Yung (2005 : 390-39) murid memerlukan lingkungan yang positif untuk
pembelajaran. Untuk mencapai lingkungan yang positif tersebut dipengaruhi oleh,
1.
Gaya kepemimpinan
a) Gaya manajemen otoritarian (otoriter).
Fokus utama gaya manajemen ini adalah
menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran.
b)
Gaya manjemen otoratif.
Pada gaya ini, guru menjelasakan
peraturan dan regulasi yang dibuatnya dan menentukan standar dengan masukan
dari muid.
c)
Gaya manajemen permisif.
Gaya ini memberikan banyak kebebasan
pada murid dan tidak memberikan banyak dukungan untuk pengembangan pembelajaran
atau perbaikan perilaku, keahlian akademik rendah, dan kontrol diri rendah
mereka.
2. Mengelola
aktifitas kelas secara efektif
Guru
yang efektif mengelola aktivitas kelas dengan melakukn hal berikut :
a) Memerhatikan
dan mengikuti perkembangan ketertiban murid(withitness). Guru yang with-in
(sadar) melakukan tindakan koreksi sebelum perilaku semakin
menyebar/menyimpang.
b) Mengatasi
situasi tumpang tindih secara efektif.
c) Menjaga
kelancaran kontinuitas pelajaran.
d) Melibatkan
murid dalam berbagai aktivitas yang menantang.
3. Tindakan
pencegahan dalam pembelajaran
Pencegahan terhadap pelanggaran dapat dilakukan
dengan aturan dan prosedur serta penanaman nilai.
a) Membuat
aturan dan prosedur. Setelah membuat dan mengajarkan aturan dan prosedur, guru
harus konsisten mempertahankannya.
b) Pergerakan
murid.
c) Keributan
suara murid. Murid yang berbicara atau bertanya bukan pada waktu yang tepat
akan memperlambat pembelajaran di kelas dan mengganggu konsentrasi guru.
d) Mempertahankan
proses pembelajaran denganmomentum dan smoothness. Momentumadalah pada saat guru menjelaskan hal
yang sangat penting atau pada saat murid sedang mengerjakan tugas yang
diberikan guru. Smoothness adalah urutan
pelajaran yang tertata dengan baik. Transition adalah mengatur satu aktivitas
ke aktivitas yang lainnya, dari satu mata pelajaran ke mata pelajaran lainnya,
atau dari satu pelajaran ke waktu istirahat.
2.1.5 Jenis-Jenis Pengelolaan Kelas
Menurut
Dwi Faruqi (2018:297-299) dalam Nurhadi upaya untuk menciptakan dan
mempertahankan suasana yang diliputi oleh motivasi siswa yang tinggi dapat
dilakukan secara preventif maupun secara kuratif. Maka pengelolaan kelas,
apabila ditinjau dari sifatnya, dapat dibedakan menjadi dua yaitu
1.
Pengelolaan kelas yang bersifat preventif
Dikatakan
secara preventif apabila upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk
menciptakan suatu kondisi dari kondisi masa menjadi interaksi pendidikan dengan
jalan menciptakan kondisi baru yang menguntungkan bagi proses belajar mengajar.
Pengelolaan kelas yang preventif ini dapat berupa tindakan, contoh atau
pemberian informasi yang dapat diberikan kepada siswa sehingga akan berkembang
motivasi yang tinggi, atau agar motivasi yang sudah baik itu tidak dinodai oleh
tindakan siswa yang menyimpang sehingga mengganggu proses belajar mengajar di
kelas.12
Keterampilan
yang berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan
mengendalikan pelajaran ini, dapat ditunjukkan melalui sikap tanggap guru,
bahwa guru hadir bersama anak didik. Guru tahu kegiatan mereka apakah
memperhatikan atau tidak. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala,
sehingga guru dapat menegur mereka walaupun sedang menulis di papan tulis.
2.
Pengelolaan kelas yang bersifat kuratif
Pengelolaan
kelas secara kuratif adalah pengelolaan kelas yang dilaksanakan karena terjadi
penyimpangan pada tingkah laku siswa sehingga mengganggu jalannya proses
belajar mengajar. Dalam hal ini kegiatan pengelolaan kelas akan berusaha
menghentikan tingkah laku yang menyimpang tersebut dan kemudian mengarahkan
terciptanya tingkah laku siswa yang mendukung terselenggaranya proses belajar
mengajar dengan baik.
Guru harus mengetahui pusat
perhatian siswa pada waktu mengikuti pelajaran dalam kelas. Apakah
siswa-siswanya di kelas tekun mengikuti dan terlibat dalam kegiatan belajar
mengajar ataukah tidak. Dari sorot mata atau gerak-gerik mereka dapat diketahui
apakah mereka sudah tertuju dan mengikuti dengan baik proses belajar mengajar
ataukah malah mengganggu proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini dapat
diketahui ketika siswa ditunjuk untuk menjawab atau melakukan perintah guru,
akan memberikan jawaban yang salah (dalam arti kurang komunikasi atau
konsentrasi) atau terlihat terkejut. Oleh karena itu, apabila terdapat anak
didik yang menimbulkan gangguan pada saat kegiatan belajar mengajar, guru dapat
menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku anak didik,
misalnya dengan mencoba mengetahui sebab-sebab yang mengakibatkan tingkah laku
anak didik yang menyimpang tadi, kemudian berusaha untuk menemukan
pemecahannya.
Menurut Radno Harsanto (2007:40-42)
Kelas harus dirancang dan dikelola dengan seksama agar memberi hasil yang
maksimal. Pendekatan atas pengelolaan kelas sangat tergantung pada
kemampuan,pengetahuan,sikap guru, terhadap proses pembelajaran, dan hubungan
siswa yang mereka ciptakan.ada 4 jenis kelas yang dapat diamati yaitu sebagai
berikut
a. Jenis
kelas yang selalu gaduh. Guru harus bergelut sepanjang hari untuk menguasai
kelas, tetapi tidak berhasil sepenuhnya. Petunjuk dan ancaman sering
diabadikan, dan hukuman tampaknya tidak efektif.
b. Jenis
kelas yang termasuk gaduh, tetapi suasananya lebih positif. Guru mencoba untuk
membuat sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswanya dengan
memperkenalkan permainan dan kegiatan yang menyenangkan, membaca cerita, serta
menyelenggarakan kegiatan kesenian dan pameran kerajinan siswa. Akan tetapi,
jenis kelas ini juga masih menimbulkan masalah. Banyak siswa kurang memberi
perhatian di kelas dan tugas-tugas sekolah tidak diselesaikan dengan baik atau
tugas tersebut dikerjakan secara acak-acakan. Hal ini dapat terjadi walaupun
guru memberi kegiatan akademik yang minimal dan mencoba semaksimal mungkin agar
kegiatan akademik tersebut menyenangkan.
c. Jenis
kelas yang tenang dan disiplin, baik krena guru telah menciptakan banyak aturan
maupun meminta agar aturan tersebut dipatuhi. Pelanggaran langsung dicatat dan
diikuti dengan peringatan tegas, dan bila perlu disertai dengan hukuman. Guru
sering menghabiskan banyak waktu dengan melakukan hal ini karena ia dengan
cepat dapat memerhatikan bentuk pelanggaran . Ia tampak berhasil menanamkan
disiplin karena siswa biasanya patuh. Akan tetapi, suasana kelas menjadi tidak
nyaman. Keterangan yang demikian ,hanya tampak dipermukaan saja karena ketika
guru meninggalkan kelas, kelas akan menjadi gaduh dan kacau.
Jenis
kelas yang mengelinding dengan sendirinya. Guru menghabiskan sebagian besar
waktunya untuk mengejar dan tidak untuk menegakkan disiplin. Siswa mengikuti
pelajaran dan menyelesaikan tugas dengan kemauannya sendiri tanpa harus
dipelototi oleh guru. Siswa yang tampak terlibat dal tugas pekerjaan saling berinteraksi
sehingga suara muncul dari beberapa tempat secara bersamaan. Akan tetapi suara
tersebut dapat dikendalikan. Dan para siswa menjadi giat serta serta tidak
saling menganggu. Apabila suara timbul dan terasa sedikit menganggu, guru
memberi sedikit peringatan dan kelas menjadi tenang atau kondusif. Siapapun
akan melihat kelas semacam ini begitu hangat dan menghasilkan prestasi yang
membanggsakan.
2.1.6 Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas
Prinsip-prinsip menurut Djamar dalam
Sunaengsih (2018:105), antara lain :
1.
Hangat dan antusias.
2.
Tantangan.
3.
Bervariasi.
4.
Keluesan.
5.
Penekanan pada hal-hal yang positif.
6.
Penanaman disiplin diri.
Sedangkan menurut Hasibuan dan Mudjono,
mengemukakan beberapa prinsip yang harus di perhatikan dalam pengelolaan kelas diantaranya yaitu:
1.
Kehangatan dan keantusiasan.
2.
Penggunaan bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah belajar siswa.
3.
Perlu dipertimbangkan variasi media,gaya mengajar, dan pola interaksi.
4.
Diperlukan keluesan tingkah laku guru dalam mengubah strategi mengajarnya untuk
mencegah gangguan-gangguan yang timbul.
5.
Penekanan pada hal positif dan menghindari pemusatan perhatian siswa pada hal
negative.
6.
Mendorong siswa untuk mengembangkan disiplin diri sendiri dengan cara memberi
contoh dalam perbuatan guru sehari-hari.
The educational application of
emotional research is still in its infancy. Some general principles to guide
classroom applications are:
1.
Seek to develop form of self-control among students and staff that encourages
nonjudgemental, nondisruptive venting of emotions.
2.
Schools should focus more on metacognitive activities that encourage students
to talk abouth their emotions, listen to their classmates’feelings.
3.
Activities that emphasize social interaction and that engage the entire body
tend to provide the most emotional support.
4.
School avtivities that draw out emotions-stimulations,role playing, and
cooperative project may provide important contextual memory prompts.
5.
Emotionally stressfull school environments are counterproductive because they
can reduce a students ability to learn (Taylor.2003:10-11).
Terjemahan
:
Aplikasi pendidikan penelitian emosional masih dalam masa pertumbuhan. Beberapa prinsip umum untuk memandu aplikasi kelas adalah:
1. Berusahalah untuk mengembangkan bentuk pengendalian diri di antara para siswa dan staf yang mendorong pelepasan emosi yang tidak menghakimi dan tidak membuat depresi.
2. Sekolah harus lebih fokus pada kegiatan metakognitif yang mendorong siswa untuk berbicara tentang emosi mereka, mendengarkan perasaan teman-teman sekelas mereka.
3. Kegiatan yang menekankan interaksi sosial dan yang melibatkan seluruh tubuh cenderung memberikan dukungan yang paling emosional.
4. Kecakapan sekolah yang menarik stimulasi emosi, permainan peran, dan proyek kerja sama dapat memberikan petunjuk memori kontekstual yang penting.
5. Lingkungan sekolah dengan stres emosional adalah kontraproduktif karena dapat mengurangi kemampuan siswa untuk belajar (Taylor.2003: 10-11).
Perencanaan pengelolaan kelas
meliputi penataan ruangan dan mengorganisasi anak sesuai dengan kebutuhan
masing-masing anak. Beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam mengelola kelas
adalah sebagai berikut :
1.
Kurangi kepadatan pada daerah lalu lalang anak-anak beraktifitas.
2.
Posisi guru dapat dengan mudah melihat semua siswa.
3.
Materi pembelajaran dan perlengkapan anak harus mudah diakses agar dapat
meminimalisir waktu persiapan dan perapi.
4.
Semua anak harus duduk pada tempatnya dan dapat melihat seluruh ruangan dengan
mudah.
5.
Menata sarana dan prasarana di dalam ruangan harus disesuaikan dengan kegiatan
yang akan dilaksanakan.
6.
Mengelola meja dan kursi anakharus bersifat fleksibel dan berubah-ubah sesuai
dengan kebutuhan anak.
7.
Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk ditempelkan beberapa sumber belajar dan
hasil kerja anak.
8.
Peletakan alat permainan edukatif atau alat peraga haruslah diletakan
sedemikian rupa sesuai dengan fungsinya.
9.
Alat bermain untuk kegiatan pengaman diletakkan didalam kelas sehingga
berfungsi apabila diperlukan oleh anak-anak (Pangastuti.2017:39-40).
A variety of specific strategies and
general pratices that met the criteria for being “avidence-based” were found
and grouped into five critical features of effective classroom management.
1.
Maximise structure through the use of teacher directed activities,explicity
defined rountines and the physical classroom arrangement in term of good
spacing of cluster of desks and visual display.
2.
Estabilishing expectasion and teaching social skills by identifying and
defining a small number of positively state rules of arrangement and then
ensuring that these are well taught, modeled, reviewed and supervised by the
teacher moving around the room.
3.
Actively engage students in their learning in order to minimizemisbehaviours by
using a variety of instructional techniques.
4.
Acnowwledging apporiate behaviours by using a range of strategies that focus on
identifiying and recognizing apporiate classroom behviours through the use of
both individual and group encouragement.
5.
Using a range of strategis to respon to misbehaviours form low-key technique to
remind and redirect the behaviours (Egeberg add all.2016:6-7).
Terjemahan
:
Berbagai strategi khusus dan praktik umum yang memenuhi kriteria untuk menjadi "berbasis bukti" ditemukan dan dikelompokkan ke dalam lima fitur penting dari manajemen kelas yang efektif.
1. Maksimalkan struktur melalui penggunaan aktivitas yang diarahkan oleh guru, rountines yang dijelaskan secara jelas dan pengaturan kelas fisik dalam hal jarak yang baik dari kelompok meja dan tampilan visual.
2. Estabilishing harapan dan mengajar keterampilan sosial dengan mengidentifikasi dan mendefinisikan sejumlah kecil aturan pengaturan negara yang positif dan kemudian memastikan bahwa ini diajarkan dengan baik, dimodelkan, ditinjau dan diawasi oleh guru yang bergerak di sekitar ruangan.
3. Libatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran mereka untuk meminimalkan perilaku verbal dengan menggunakan berbagai teknik instruksional.
4. Mengenali perilaku apporiate dengan menggunakan berbagai strategi yang berfokus pada mengidentifikasi dan mengenali ruang kelas yang sesuai melalui penggunaan dorongan baik individu maupun kelompok.
5. Menggunakan berbagai strategi untuk menanggapi perilaku yang salah dari teknik low-key untuk mengingatkan dan mengarahkan ulang perilaku (Egeberg menambahkan semua 2016: 6-7).
2.1.7 Pendekatan
Pengelolaan Kelas
Keharmonisan hubungan guru dengan
peserta didik, tingginya kerjasama diantara peserta didik tersimpul dalam
bentuk interaksi. Karena itu
there are many forms of interaction between teacher
and pupils, and betweenpupils, Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja
bergantung dari pendekatan
yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas agarpembelajaran menjadi efektif.
Menurut Syaiful Bahri pendekatan tersebut meliputi pendekatan
kekuasaan, pendekatan ancaman, pendekatan kebebasan, pendekatan resep, pendekatan
pembelajaran , pendekatan
perubahan
tingkah laku, pendekatan suasana emosi dan hubungan sosial, pendekatan proses
kelompok dan pendekatan elektis atau pluralistik.(zahro,2015:182).
In
student-centered classroom management approaches, the teacher gets to know
his/her students, share their ideas and their management approaches allow them
and students to see one another as people. Person-centered teachers share
leadership and teachers and students determine shared norms and begin to
establish trust in the classroom ,positive student-teacher relationships
presumably lessen the need for control and become the foundation for all
interaction in the classroom( Llego,2017:1804).
Terjemahan
:
Dalam pendekatan manajemen kelas yang berpusat pada siswa, guru akan mengenal muridnya, berbagi ide dan pendekatan manajemen mereka memungkinkan mereka dan siswa untuk melihat satu sama lain sebagai orang. Guru yang berpusat pada pribadi berbagi kepemimpinan dan guru dan siswa menentukan norma-norma bersama dan mulai membangun kepercayaan di kelas, hubungan siswa-guru yang positif agaknya mengurangi kebutuhan untuk kontrol dan menjadi dasar untuk semua interaksi di kelas (Llego, 2017: 1804) .
1.
Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai
suatu proses untuk mengontrol
tingkah
laku peserta didik. Peranan guru disini adalah menciptkan dan mempertahankan situasi
disiplin kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada
peserta didik untuk menaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dalam norma
yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam
bentuk norma itulah guru mendekatinya.
Di
dalam kegiatan pembelajaran, factor kedisiplinan adalah kekuatan utama untuk
dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, karena itu guru perlu
menekankan pentingnya peserta didik untuk menaati peraturan yang telah dibuat
sebelumnya. Berbagai peraturan itu
ibaratnya
adalah “penguasa” yang wajib untuk ditaati. Oleh sebab itu, guru harus mampu
melakukan pendekatan yang baik kepada peserta didik melalui peraturan
ini, dan bukan kemauannya sendiri Alangkah lebih baik jika sebelum memulai
mengajar, guru membuat kesepakatan-kesepakatan dengan peserta didik mengenai keharusan untuk menaati
aturan. Namun, tak hanya peserta didik, guru juga harus konsisten
mengikuti segala peraturan yang ditetapkan agar tidak timbul
kecemburuan diantara para peserta didik (zahro,2015:182).
2.
Pendekatan Ancaman
Dari
pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas juga sebagai suatu
proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Tetapi dalam mengontrol
tingkah laku peserta didik dilakukan dengan cara memberikan ancaman, misalnya,
melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa. Ancaman disini sepatutnya tidak
dilakukan sesering mungkin dan hanya diterapkan manakala kondisi kelas sudah
benar-benar tidak dapat dikendalikan. Selama guru masih mampu melakukan
pendekatan lain di luar ancaman, maka akan lebih baik jika pendekatan dengan
ancaman ini ditangguhkan. Namun satu hal yang harus diingat, pendekatan ancaman
harus dilakukan dalam taraf kewajaran dan diusahakan untuk tidak melukai
perasaan peserta didik.
Guru mungkin perlu memberi ancaman
seperti penangguhan nilai, pemberian tugas tambahan, serta memberikan
tugas-tugas lain yang sifatnya mendidik bagi mereka. Ancaman dalam bentuk
intimidasi yang berlebihan, seperti mengejek, membanding-bandingkan, memukul
dan memaksa, sebaiknya difikirkan ulang sebelum diterapkan. Sebab ancaman
seperti itu sangat mungkin dapat melukai perasaan peserta didik serta
menyebabkan mereka semakin bertindak represif di dalam kelas. Sindiran halus
juga dapat dilakukan oleh guru terhadap peserta didik yang kurang menaati
aturan. (zahro,2015:183).
3.
Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan
diartikan sebagai suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa bebas
untuk mengerjakan sesuatu kapan dan dimana saja. Peranan guru adalah
mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan peserta didik, selama hal itu tidak
menyimpang dari peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.
Terkadang, peserta didik tidak nyaman apabila ada seorang guru yang terlalu
over-protectif sehingga peserta didik tidak leluasa melakukan eksperimennya.
Jika memberikan tugas kepada peserta didik untuk menuliskan beberapa
pengalaman, maka berilah mereka kebebasan untuk menceritakan apa saja yang
mereka tuliskan. Jangan membuat ketentuanketentuan yang terlalu ketat yang
karenanya dapat mengekang kebebasan peserta didik untuk mengembangkan imajinasi
dan kreativitasnya.(zahro,2015:183-184).
4.
Pendekatan Resep
Pendekatan resep (cook book)
Pendekatan
resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat
menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru
dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar
itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan
guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep (Rofiq,2009:32).
5.
Pendekatan Pengajaran
Pendekatan
ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa dengan suatu perencanaan dan
pelaksanan pengajaran akan mencegah munculnya masalah tingkah laku siswa dan
memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah
laku guru dalam mengajar untuk mencegah atau menghentikan tingkah laku siswa
yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan
pengajaran yang baik.(sunhaji,2014:40).
6.
Pendekatan Pengubahan
Tingkah Laku (Behavior Modification)
Sesuai
namanya, pengelola kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah
laku siswa. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku siswa yang baik dan
mencegah tingkah laku yang kurang baik(sunhaji,2014:40).
7.
Pendekatan Sosial
Emosional
pendekatan
ini pengelola kelas merupakan proses menciptakan iklim sosial, emosional
positif dalam kelas. Sosiol emosional positif, artinya ada hubungan baik yang
positif antara guru dan siswa atau antara siswa dengan siswa. Di sini guru
adalah terhadap pembentukan hubungan pribadi itu. Peranannya adalah menciptakan
hubungan pribadi yang baik. (sunhaji,2014:40).
8.
Pendekatan Suasana
Emosi dan Hubungan Sosial
Pendekatan
pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial
(socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai kelompok individu
cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan). Menurut
pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau
suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang
positif, artinya ada hubungan yang baik dan positif antara guru dengan peserta
didik, atau antara peserta didik dengan peserta didik. Di sini guru adalah
kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, dan peranannya adalah
menciptakan hubungan pribadi yang sehat. (zahro,2015:186).
9. Pendekatan
Pluralistik
Pengelola
kelas berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi
untuk dapat menciptakan dan belajar mengajar berlangsung efektif dan efisien.
Guru dapat memilih 8 (delapan) pendekatan di atas dan ia bebas memilih
pendekatan yang sesuai yang dapat dilaksanakan. Jadi pengertian kelas adalah
suatu set (rumpun) kegiatan guru dan untuk menciptakan dan mempertahankan
kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara
efektif dan efisien(sunhaji,2014:41).
2.1.8
Masalah-masalah dalam Pengelolaan Kelas
A.
Masalah dalam Pengelolaan Kelas
Menurut Ranchman (dalam Cucun
Sunaengsih. 2017: 17-18) terdapat beberapa faktor atau sumber yang dapat
menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang dapat menggaggu terpeliharanya
disiplin dalam suatu mangemen kelas. Faktor tersebut dapat diklasifikasikan
kedalam tiga kategori umum yaitu masalah-masalah yang ditimbulkan oleh guru,
siswa, dan lingkungan. Berikut pemaparannya:
a.
Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh guru
Pribadi
guru sangat mempengaruhi terciptanya suasana disiplin kelas yang efektif,
berikut yang dapat menimbulkan masalah didalam kelas terganggu:
1) Guru
membiarkan peserta didik berbuat salah
2) Lebih
mementingkan mata prlajaran dari pada pesrta didik
3) Kurang
menghargai pada peserta didik
4) Kurang
adanya rasa humor saat pembelajaran dikelas
5) Kata-kata
atau sindiran tajam yang menimbulkan rasa malu siswa
6) Kegagalan
menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta didik
7) Gagal
menditeksi atau memahami perbedaan individu peserta didik
8) Berbicara
menggumam atau tidak jelas
9) Memberi
tugas yang berat dan kompleks
10) Tidak
memberikan umpan balik kepada hasil krja peserta didik
b.
Masalah-masalah yang ditimbulkan peserta didik
beberapa
hal berikut ini cenderung memberikan kontribusi timbulnya masalah kelas
terganggu, yaitu:
1) Anak
yang suka “membadut” atau berbuat yang aneh semata-mata untuk menarik perhatian
dikelas
2) Anak
broken home yang butuh akan perhatian
3) Anak
yang sakit
4) Anak
yang tidak mengerjakan tugas-tugas sekolah
5) Anak
yang memiliki rasa bermusuhan atau menentang terhadap peraturan
6) Anak
yang memiliki masalah pesimis terhadap semua keadaan
7) Anak
yang berkeinginan berbuat segalanya dikuasai secara “sempurna”
c.
Masalah-masalah yang ditimbulkan lingkungan
Lingkungan
secara langsung atau tidak langsung, situasi atau kondisi yang mengelilingi
peserta didik dapat menimbulkan masalah dikelas, yaitu:
1) Lingkungan
rumah/keluarga, seperti: kurang perhatian, ketidak teraturan, pertengkaran,
tekanan, masa bodoh, sibuk urusannya masing-masing.
2) Lingkungan
tempat tinggal, seperti: lingkungan criminal, lingkungan bising, lingkungan
minuman keras, dan sebagainya.
3) Lingkungan
sekolah, seperti: kelemahan guru, kelemahan kurikulum, kelemahan manajemen
kelas, ketidak tertiban, kekurangan fasilitas.
4) Situasi
sekolah, seperti: hari-hari akan libur atau sesudah libur, pergantian
pelajaran, pergantian guru, jadwal yang kaku, bau-bau yang timbul baik dari
kantin atau toilet, suara bising disekitar kelas.
Menurut Sunaryo (dalam Sunhaji. 2014:
35-36) bahwa ” setiap guru akan mrnghadapi dua masalah pokok, yaitu masalah
pengajaran dan masalah managemen. Masalah pengajaran adalah usaha membantu
siswa dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung, misalnya membuat
suatu acara pembelajaran (SAP), penyajian inforasi, mengajukan pertanyaan,
evaluasi dan banyak lagi. Sedangkan masalah manajemen adalah usaha untuk
menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses belajar
mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien, misalnya memberi
penguatan, mengembangkan hubungan uru-siswa, membuat aturan kelompok yang
produktif”
Indiscipline is a problem normally faced
by teachers which creates a hindrance in teaching process. Due to indiscipline
situation students arrive late for class, are not punctual for the classes or
simply bunk classes as the class is not very interesting or rather as a teacher
we are unable to create interest in the class .This may be a result of lack of
lesson planning .At times effective management of time is also overlooked. Non
verbal cues like body language and communication skills also play a major role
in making the class effective (Chandara. 2015: 13-14).
Terjemahan
:
Ketidakdisiplinan adalah masalah yang biasanya dihadapi oleh guru yang menciptakan hambatan dalam proses pengajaran. Karena ketidakdisiplinan, siswa datang terlambat ke kelas, tidak tepat waktu untuk kelas atau hanya kelas susun karena kelas tidak terlalu menarik atau lebih tepatnya sebagai guru kita tidak dapat menciptakan minat di kelas. Ini mungkin disebabkan oleh kurangnya perencanaan pelajaran .Saat manajemen waktu yang efektif juga diabaikan. Isyarat non-verbal seperti bahasa tubuh dan keterampilan komunikasi juga memainkan peran utama dalam membuat kelas efektif (Chandara. 2015: 13-14).
B.
Pemecahan Masalah dalam Manajemen Kelas
Menurut Sunaengsih (2017:18-19) dalam
setiap masalah ternyata selalu ada pemecahan masalahnya asalkan kita mau
berusaha memecahkan masalah tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut masalah
dalam pengelolaan kelas juga terdapat upaya pemecahan masalah simana upaya
pemecahan masalah tersebut tebagi menjadi dua yang dapat dirumuskan sebagai
berikut:
a.
Upaya pemecahan masalah yang bersifat pencegahan
Sebelum
masalah terjadi dalam pengelolaan kelas dapat dilakukan pencegahan untuk
meminimalisir masalah yang terjadi. Keberhasilan dalam pencegahan dapat menjadi
salah satu indikator dalam keberhasilan pengelolaan kelas. Adapun
langkah-langkah dalam upaya pencegahan terhadap masalah dalam pengelolaan
pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) Peningkatan
kesadaran diri sebagai guru
Langkah
ini merupakan langkah dasar bagi seorang guru. Kesadaran ini akan meningkatkan
rasa tanggung jawab dan rasa yang memiliki yang merupakan dasar bagi guru untuk
melaksanakan tugasnya.
2) Peningkatan
kesadaran peserta didik
Interaksi
positif antara guru dan siswa akan menghasilkan pembelajaran yang baik,
sehingga setelah timbul kesadaran guru maka kesadaran peserta didik juga harus
ditingkatkan. Cara yang dapat dilakukan yaitu memberitahu hak dan kewajiban
peserta didik, memperhatikan kebutuhan, keinginan dan dorongan peserta didik
dan menciptakan suasana saling pengertian dan saling menghormati.
3) Sikap
polos dan tulus dari guru
Sikap
ini merupakan sikip tulus dari guru dalam pembelajaran sehingga pembelajaran
dapat berjalan secara jujur tanpa adanya kebohongan dalam setiap tindakan yang
diberikan guru.
4) Mengenal
alternatif pengelolaan
Langkah
yang dilakukan yaitu melakukan tindakan identifikasi sebagai penyimpangan
tingkah laku peserta didik yang bersifat individual maupun kelompok, mengenal
berbagai penekatan dalam manajemen kelas dan mempelajari pengalaman guru lain
yang berhasil atau gagal dalam pelaksanaan pembelajaran yang dapat digunakan
sebagai cermin dari cara guru melakukan pembelajaran
5) Menciptakan
kontak sosial
Kontak
sosial berkaitan dengan standar tingkah laku yang diharapkan dapat memberikan
gambaran tentang keterbatasannya dalam memfasilitasi kebutuhan peserta didik,
sehingga dalan menentukan norma atau peraturan diperlukan adanya kontak sosial
lebih dahulu kepada peserta didik.
b.
Upaya yang bersifat penyembuhan
Adapun
langkah-langkah penyelesaian masalah dapat dilkukan melalui langkah berikut:
1) Mengidentifikasi
masalah
Mengidentifakasi
jenis penyimpangan dan mengetahui yang melatar belakangi masalah yang terjadi.
2) Menganalisis
masalah
Setelah
mengenali masalah maka muali menentukan alternatif dalam penyelesaian
masalahnya.
3) Menilai
alternatif pemecahan masalah
Menilai
atau memilih alernatif yang dianggap mampu dan dapat menanggulangi masalah yang
terjadi.
4) Mendapatkan
balikan
Melaksanakan
monitoring dengan maksud mengetahui kemampuan alternatif pemecahan masalah
dengan masalah yang terjadi.
Menurut Pasikha (2017:55) tindakan
pencegahan atau preventif adalah tindakan untuk menyediakan kondisi fisik dan
emosional sehingga siswa merasa nyaman dalam belajar. Adapun tindakan korektif
adalah tindakan yang berusaha untuk memperbaiki tingkah laku siswa yang menyimpang
dan merusak kondisi optimal bagi PBM. Hal ini yang terkait erat dengan masalah
kedisiplinan. Dan peran guru sangat penting dalam pengelolaan kelas untuk mampu
menangani masalah siswa sebab disiplin adalah kunci sukses dalam segala hal.
Dari kedisiplinan akan timbul sifat teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam
usaha, gigih dalam membela kebenaran serta pantang berputus asa.
2.2 Kajian
Kritis
Manajemen kelas adalah segala usaha yang
diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan
menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai
dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen merupakan usaha sadar
untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Manajemen
kelas berkaitan dengan mendesain lingkungan fisik kelas untuk pembelajaran yang
optimal, menciptakan lingkungan yang positif untuk pembelajaran, membangun dan
menegakkan aturan, mengajak murid berpartipasi mengatasi permasalahan secara
efektif, dan menggunakan strategi komunikasi yang baik
Tujuan manajemen kelas pada hakekatnya
sudah terkadung pada tujuan pendidikan secara umum. Tujuan manajemen kelas
adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam
lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang
disediakan itu memungkinkan siswa beljar dan bekerja, terciptanya suasana
sosial yang memberi kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual,
emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Dalam mewujudkan pengelolaan kelas yang
baik, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya, di antaranya adalah
kondisi fisik. Lingkungan fisik tempat belajar memiliki pengaruh yang penting
terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi
syarat minimal mendukung meningkatnya intensitas proses pembelajaran dan
mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.
Perlu ditekankan dalam diri setiap guru
bahwa manajemen kelas memilki peran penting dalam tercapai atau tidaknya tujuan
pembelajaran. Jika manajemen kelas seorang guru maka hal ini dapat menyebabkan
gangguan dalam pembelajaran dan membuat proses pembelajaran tidak efektif dan
efisien sehingga tujuan pembelajaranpun tidak dapat dicapai. Sehingga perlu
ditekankan bahwa menejemen kelas merupakan hal yang penting untuk mendapatkan
perhatian, agar tujuan pembelajaran tercapai.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Beberapa hal penting yang dapat kami
jadikan sebagai kesimpulan dalammakalah ini adalah berikut ini:
1. Pengelolaan
kelas merupakan usaha sadar, untuk mengatur kegiatan proses belajar mengejar
secara sistematis. Usaha sadar itumengarah pada penyiapan bahan belajar,
penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi
atau kondisi proses belajar mengajar.
2. Penguasaan
terhadap prinsip mengelola kelas merupakan keterampilanyang harus dikuasai oleh
bagian seorang guru yang profesional, selain harusmenguasai pengetahuan atau
ilmu yang akan diajarkannya secara prima, jugaharus menguasai cara menyampaikan
materi dan penguasaan ruang belajar sehingga akan tercapai proses belajar
mengajar yang efektif.
3. Empat
fungsi umum yang merupakan ciri pekerjaan guru sebagaimanager: merencanakan,
mengorganisasikan, memimpin,dan mengawasi
4. Tindakan
pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi
dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi, dandapat memilih strategi
penanggulangannya dengan tepat pula. Secara umum masalah dalam pengelolaan
kelas dibagi dalam tiga kelompok, yaitu masalahindividu, masalah kelompok dan
masalah organisasi.
5. Indikator
dari keberhasilan pengelolaan kelas antara lain gurumengerti perbedaan antara
mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas, gurumengetahui perbedaan antara
prosedur kelas dan rutinitas kelas, gurumelakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir
prosedur-prosedur, gurutidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan
konsekuensi sertaguru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh
sesuatu,sedangkan disiplin bisa dipelajari.
6. Tujuan
manajemen kelas pada hakekatnya sudah terkadung pada tujuan pendidikan secara
umum.tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam
kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam
kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa beljar dan bekerja,
terciptanya suasana sosial yang memberi kepuasan, suasana disiplin,
perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.
7. upaya
untuk menciptakan dan mempertahankan suasana yang diliputi oleh motivasi siswa
yang tinggi dapat dilakukan secara preventif maupun secara kuratif.
8.
timbulnya
masalah-masalah yang dapat menggaggu terpeliharanya disiplin dalam suatu
mangemen kelas. Faktor tersebut dapat diklasifikasikan kedalam tiga kategori
umum yaitu masalah-masalah yang ditimbulkan oleh guru, siswa, dan lingkungan.
3.2
Saran
Apa yang kita bayangkan dalam
pengelolaan kelas dapat menjadi tindakannyata ketika berdiri di depan kelas
untuk memulai proses belajar mengajar.Mengelola kelas dengan baik menjadikan
suasana belajar mengajar terasa menjadi kondusif dan menyenangkan, baik bagi
murid maupun guru.
DAFTAR
PUSTAKA
Adi,
Sugeng Susilo. 2016. Classroom Management.
Malang : UB Media.
Chandra, Ritu. 2015. Classroom Management For Effective Teaching.
International Jurnal of Education and Psychological
Research (IJEPR). Vol. 4, Issue. 4.
Chivore.
1995. Educational Administration and
Management : A Methodological
Handbook
for Primary School Head in Zimbabwe. Harare : Mazongororo
Paper
Convertes.
Delceva, Jasmina.
2014. Classroom Management. Vol. 2,
No. 1.
Dunbar,
Christopher. 2004. Best Practice in
Classroom Management. Michigan :
Michigan State University.
Faruqi, Dwi.2018. Upaya Meningkatkan Kemampuan Belajar Siswa
Melalui
Pengelolaan Kelas. Dosen
STIT Misbahul Ulum Gumawang OKU
Timur.
P-ISSN 2580-3387 Vol 2. No.1.
George R.Taylor. 2003. Practical Application Clasroom Management
Theories
intoStrategies
: UniversitasnPress Of America.
Harsanto, Ratno. 2007. Pengelolaan Kelas yang Dinamis : Pradigma
Baru
Pembelajaran Menuju Kompetensi Siswa.Yogyakarta :
Kanisius (Anggota IKAPI).
Helen Egeberg add al. 2016. Classroom Management and National
Professional
Standars For teachers: A Review of the Literature on
Theory and Practice. Australian Jurnal of
teacher Education. Vol 41.
Indrawan, Irjus. 2015. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasaran
Sekolah.
Yogyakarta : Deepublish.
Kopershoek,
Hanke, et al. 2014. Effective Classroom
Management Strategies and
Classroom
Management Programs For Educational Practice.
Groningen:
RUG/GION.
Llego,Jordan
Hiso.2017.Classroom Management approach
of STE Science
Teachers in
Region 1 Philippines.Vol.3.No.3.
Pasikha, Nok. 2017. Implementasi Manajemen Kelas dalam Mengatasi
Masalah
disiplin
Siswa. Jurnal Dialektika. Vol. 7, No. 1.
Prasetyaningsih,
dan Insih Wilujeng. 2016. Analisis
Kualitas Pengelolaan Kelas
Pembelajaran Sains Pada SMP SSN
Kabupaten Pati.
VOL. 2, NO. 2.
Ratna Pangastuti dan Isnaini
Solichah. 2017. Studi Analisis Manajemen
Pengelolaan Kelas di Tempat Penitipan Anak (TPA)
Khadijah Pandegliling Surabaya. Jurnal Ilmiah Tumbuh
Kembang Anak Usia Dini. Vol.2.
Rofiq, M Anur.
2009. Pengelolaan Kelas.
Malang :
E-book.
Simonsen, Brandi, et al. 2008. Evidence-based Practices in Classroom
Management: Considerations for Research to
Practice.
Vol. 31, No. 2.
Sunaengsih, Cucun. 2017. Pengelolaan Pendidikan. Sumedang : UPI Sumedang
Press.
Sunhaji. 2014.
Konsep
Menejemen dan Implikasinya Dalam
Pembelajaran.
Vol.2.No.2.
Surjana, Andyarto. 2004. Efektivitas Pengelolaan Kelas. No. 02.
Vijesh, K., and Manoj Praveen.
2017. Mastering Classroom Management- A
Problem Based Learning Approach. Vol. 7, Issue 3, Ver. III.
Wannarka,
Rachel and Kathy Ruhl. 2008. Seating
Arrangement ThatPromote
Positive Academic And Behavioural Outcome : A Review of Empirical
Research. Vol.23, No. 2.
Walter, Jim and Shelly Frei. 2007. Managing Classroom Behavior And
Discipline.USA
: Shell Education.
Warsono, Sri. 2015. Pengelolan Kelas dalam Meningkatkan Belajar
Siswa. Vol.
10, No. 5.
Yao Tung, Khoe. 2015. Pembelajaran dan Perkembangan Belajar.
Jakarta :
Indeks.
Zahro, Lailatul.
2015. Pendekatan Dalam Pengelolaan Kelas.
Vol.22, No.2.
No comments:
Post a Comment